12 July 2024

Foto: Ilustrasi.

PT Eka Sari Lorena Transport Tbk (LRNA) kesulitan mencetak kinerja positif dalam sepuluh tahun terakhir. Pada 2023 lalu, perusahaan otobus (PO) itu mengalami kerugian Rp777 juta.

Manajemen LRNA menyebut, persaingan di bisnis PO semakin ketat tiap tahun karena banyak PO baru bermunculan dan tak ada proteksi untuk PO lama.

“Namun, perseroan mampu mengikis kerugian dari Rp21,3 miliar menjadi Rp777 juta di tahun 2023,” katanya lewat keterbukaan informasi dikutip Senin (17/6/2024).

Selain tak ada pembatasan penerbitan izin PO baru, industri transportasi darat juga dinilai manajemen sangat minim insentif dari pemerintah. Apalagi, ada juga kebijakan pemerintah yang merugikan industri.

Salah satunya pembatasan alokasi biosolar untuk angkutan umum sebesar 200 liter per hari per kendaraan. “Hal tersebut menyulitkan angkutan Antar Kota Antar Provinsi,” katanya.

Untuk tahun ini, manajemen berencana melakukan efisiensi untuk memperbaiki kinerja bottom line. Efisiensi tersebut termasuk rencana mengurangi karyawan.

Selain itu, LRNA juga akan menutup rute-rute yang dinilai tak menguntungkan dan memperkuat rute-rute pendek. Dari sisi konsumen, perseroan akan membuka akses lebih murah untuk penjualan tiket. Saat ini, porsi penjualan tiket online mencapai 10 persen.

“Selain itu, perseroan akan memperkuat divisi ‘Rental Bus’ dengan mengikuti tender-tender yang diadakan oleh perusahaan-perusahaan yang membutuhkan jasa rental bus,” tuturnya.