BALI (SinarHarapan.id) – Academy Pastry and Culinary Arts (APCA) melihat Bali memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pengembangan sumber daya manusia (SDM) sekaligus produk kuliner Indonesia. Menurut Pendiri APCA sekaligus Presiden Indonesian Pastry Bakery Society (IPBAS) Louis Tanuhadi, keberadaan industri pariwisata yang kuat dinilai menjadi salah satu modal utama pengembangan pendidikan kuliner di Bali.
Ia menilai Bali tak hanya memiliki industri hotel dan pariwisata yang besar, tetapi juga beragam bahan baku lokal yang berpotensi dikembangkan dan diperkenalkan ke pasar dunia. Menurutnya, garam Kusamba dan gula aren merupakan contoh produk lokal Bali yang memiliki karakter kuat dan dapat dikembangkan lebih jauh melalui inovasi kuliner.
“Ini tugas kami di APCA. Bukan hanya menjadi sekolah, tetapi juga harus menjadi mercusuar atau corong untuk menyuarakan Bali,” ungkapnya di Gourmet Garage, Jimbaran, Jumat (25/9).
APCA juga berencana menghadirkan chef-chef dari berbagai negara untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada peserta didik. Selain menerima siswa dari berbagai daerah di Indonesia, APCA di Bali juga membuka peluang bagi peserta internasional.
Saat ini, peserta yang mendaftar antara lain berasal dari Bali, Jakarta dan Surabaya. Kehadiran APCA di Bali diharapkan memberikan alternatif pendidikan kuliner dengan pendekatan praktik yang lebih besar.
Ia mengatakan, pendidikan di APCA mengedepankan sekitar 90 persen praktik dan 10 persen teori. Pada awal pendidikan, peserta mendapatkan pembekalan teori seperti keselamatan kerja dan dasar-dasar lainnya. Materi teori juga diberikan pada jenjang berikutnya, termasuk produk, pemasaran dan bisnis. “Selama sembilan bulan, teori itu sekitar tiga sampai empat minggu maksimal. Selebihnya praktik,” katanya.
Ia juga menilai SDM Bali memiliki potensi besar di bidang kuliner. Hal tersebut, salah satunya, terlihat dari pengalaman peserta didik asal Bali yang mampu meraih medali emas dalam kompetisi kuliner tingkat Asia.
Menurutnya, peserta tersebut menunjukkan semangat berlatih yang tinggi hingga mampu berlatih di sekolah sampai malam hari. Prestasi itu dinilai menjadi bukti bahwa kemampuan dan kemauan peserta didik Bali dapat berkembang apabila mendapatkan arahan dan kepemimpinan yang tepat.
Dalam pengembangan pendidikan kuliner, APCA juga tidak memandang sekolah pariwisata maupun lembaga pendidikan kuliner lainnya sebagai kompetitor. Menurutnya, seluruh lembaga memiliki peran yang sama dalam menyiapkan generasi penerus di bidang pariwisata dan kuliner.
“Saya tidak pernah melihat mereka sebagai kompetitor. Mereka sama-sama satu tim yang mengajar dan mendidik generasi penerus kita. Sistemnya saja yang berbeda,” ujarnya.
Terkait dukungan pemerintah, ia mengakui dukungan masih diperlukan untuk memperkuat pengembangan pendidikan kuliner. Namun, ia memahami pemerintah memiliki berbagai prioritas lain yang harus ditangani.
“Harapan pasti selalu ada. Kami tidak pernah bisa berjalan sendiri. Kami membutuhkan dukungan, terutama dari pemerintah,” katanya.
Selain pendidikan, APCA juga ingin mendorong pemanfaatan bahan baku lokal. Meski industri kuliner masih memiliki ketergantungan terhadap sejumlah bahan baku impor, berbagai produk lokal dinilai dapat menjadi sumber inovasi.
Ia mencontohkan penggunaan mangga gedong asal Cirebon dan tape atau peuyeum dalam produk kuliner yang pernah dikembangkannya. Menurutnya, Bali memiliki potensi bahan baku lokal yang lebih beragam untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.
Dari sisi alumni, APCA memperkirakan telah menghasilkan sekitar 600 lulusan sejak mulai beroperasi pada 2019, dengan memperhitungkan periode pandemi. Sejumlah alumni kini bekerja di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat dan Kanada.
Ia mengaku masih menjaga komunikasi dengan para alumninya meskipun telah menyelesaikan pendidikan. Hal itu dilakukan untuk memastikan para lulusan tetap mendapatkan arahan dalam mengembangkan kariernya. “Secara skill mereka mungkin sudah oke, tetapi secara kehidupan mereka masih muda. Mereka masih membutuhkan arahan,” ujarnya.






