BALI (SinarHarapan.id) – Langit Pantai Pererenan, Badung, dipenuhi puluhan layang-layang raksasa dalam Mereren Festival 2026. Namun, di balik kemeriahan festival internasional yang mengusung konsep ramah lingkungan tersebut, pengolahan sampah dan komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan menjadi perhatian utama penyelenggara.
Festival yang berlangsung 21–23 Agustus 2026 ini menggandeng sejumlah pihak untuk memastikan sampah yang dihasilkan tertangani sesuai jenisnya. General Manager Noema Resort Pererenan sekaligus Festival Director Mereren Festival 2026, Ricky Tanza, mengatakan pihaknya bekerja sama dengan Daur Tera untuk menangani sampah kering (dry waste), BUMDes untuk sampah umum, serta vendor bersertifikat untuk mengelola limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).
“Sesuai visi pemilik hotel untuk menjadikan tempat ini sebagai percontohan sustainability, kami menerapkan aturan tanpa plastik sama sekali. Semua material sudah didaur ulang,” katanya, Jumat (21/8).

Mereren Festival 2026 sekaligus menjadi bagian dari perayaan ulang tahun kedua Noema Resort Pererenan. Festival bertema “Wind, Wave, Neighborhood” tersebut diikuti peserta dari delapan negara, di antaranya Korea, Thailand, Denmark, Inggris, Australia, dan Singapura.
Para peserta membawa beragam kreasi layang-layang yang diarak dari Noema Resort menuju Pantai Pererenan sejauh sekitar satu kilometer. Arak-arakan tersebut diiringi gamelan Bale Ganjur sebelum ratusan peserta menerbangkan layang-layang dengan berbagai bentuk dan ukuran di kawasan pantai. “Festival tahunan ini kami namakan ‘Mereren’, yang berarti berhenti sejenak (to pause),” ujar Ricky.
Tak hanya menampilkan atraksi layang-layang, Mereren Festival 2026 juga menghadirkan pertunjukan musik dan musik tradisional, Dinner Under the Kite, Pasar Pererenan, serta talkshow edukatif mengenai sustainability bersama sejumlah panelis, di antaranya Sureco dan Daur Tera.
Komitmen terhadap lingkungan juga diwujudkan melalui workshop pembuatan keramik dan pengolahan plastik daur ulang menjadi jam tangan. Festival turut diramaikan pembukaan galeri dan toko baru JHL Collection di area lobi hotel.
Dari sisi seni dan budaya, pengunjung dapat menyaksikan penampilan Bumi Bajra serta kolaborasi Wayang Lemah dengan Putu Septa. Pengunjung juga berkesempatan mengikuti workshop tari tradisional sekaligus mempelajari filosofi yang terkandung di dalamnya.
Sementara itu, Dinner Under the Kite digelar di rooftop dengan menghadirkan kolaborasi Chef Dom dari Filipina dan chef lokal. Sajian yang dihidangkan mengedepankan bahan organik dengan konsep sustainability.
Konsep “Wind, Wave, Neighborhood” menjadi benang merah festival yang menghubungkan alam dengan masyarakat sekitar. Wind dan Wave merepresentasikan unsur alam melalui kegiatan layang-layang serta kepedulian terhadap kelestarian air dan laut.
Adapun Neighborhood diwujudkan melalui keterlibatan masyarakat setempat, termasuk seniman, perajin, dan pelaku UMKM. Dengan konsep tersebut, festival diharapkan tidak sekadar menjadi hiburan, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.
“Neighborhood adalah upaya kami melibatkan masyarakat setempat seperti seniman, perajin, dan UMKM lokal agar mereka merasakan dampak ekonominya,” jelas Ricky.
Untuk memperkuat keterlibatan masyarakat, Mereren Festival tahun ini meluncurkan Passport Mereren. Melalui program tersebut, tamu dapat berkeliling ke 31 tenant atau UMKM di sekitar kawasan untuk mendapatkan stempel sekaligus menikmati berbagai diskon khusus.
Program ini sekaligus menjadi upaya memperkenalkan potensi Pererenan secara lebih luas. Ricky menegaskan, festival tidak hanya diarahkan untuk memperkenalkan kawasan dari sisi keramaian, tetapi juga pengalaman seni dan budaya.
“Target dari event ini utamanya memperkenalkan potensi daerah Pererenan. Kami tidak ingin tempat ini hanya dikenal karena keramaiannya, melainkan sebagai destinasi yang menawarkan pengalaman budaya dan seni yang mendalam,” ujarnya.
Menurut Ricky, konsep pengalaman juga menjadi salah satu keunggulan Noema Resort. Tim hotel aktif berinteraksi dengan tamu untuk memastikan kebutuhan mereka terpenuhi. Selain menginap, tamu dapat menikmati art shop dan mengikuti berbagai workshop harian tanpa harus meninggalkan area hotel.
Dipilihnya layang-layang sebagai ikon Mereren Festival tidak terlepas dari sejarah berdirinya Noema Resort setelah pandemi Covid-19. Saat itu, masyarakat desa setempat telah memiliki tradisi kompetisi layang-layang. Pihak hotel kemudian berupaya menghidupkan kembali tradisi tersebut bersama kurator Kadek Armika.
“Tiga layang-layang tradisional di lobi kami adalah ikon dari inisiatif tersebut, dan kompetisi ini akan terus kami adakan setiap tahun,” pungkasnya.
Di tengah pelaksanaan festival, tingkat okupansi Noema Resort Pererenan tercatat sekitar 70 persen. Tamu masih didominasi wisatawan domestik, Australia, dan Amerika Serikat, dengan sebagian besar melakukan pemesanan secara mendadak atau last-minute booking.












