21 June 2024

SinarHarapan.id-Memutuskan menikmati liburan ke kawasan Kota Tua di Jakarta Barat, pasti sudah terbayangkan bangunan megah masa kolonial Belanda yang hingga kini masih terawat dan dikelola dengan baik.

Kebanyakan wisatawan, mereka hanya menikmati bangunan untuk swafoto kemudian diunggah ke laman media sosial. Sedikit dari wisatawan yang paham betul sejarah dari bangunan megah yang mereka gunakan untuk swafoto.

Tidak sedikit pula wisatawan yang datang bingung hendak ke mana ketika sudah sampai ke kawasan Kota Tua. Karena sudah takjub terlebih dahulu dengan bangunan megah di kawasan tersebut.

Selain dapat bertanya ke tour guide yang ada di lokasi, tidak ada salahnya juga membaca literasi yang Infopublik bagi disini untuk wisatawan yang berencana ke kawasan Kota Tua sebagai destinasi pilihan libur lebaran di Jakarta.

Museum Sejarah

Selain menjadi paling mudah dijumpai, museum sejarah ini pun lokasinya paling besar dan megah, karena dulunya menjadi kantor pusat pemerintahan Belanda (Gouverneurs Kantoor) di Batavia sekarang menjadi Jakarta.

Museum umum dengan kategori tipe A ini berlokasi di Taman Fatahilah. Gedung megah ini dibangun pada tahun 1707-1710 atas perintah Gubernur Jenderal Joan Van Hoorn. Bentuknya menyerupai bangunan Istana Dam di Amsterdam, Belanda.

Museum yang memiliki 47 koleksi benda sejarah ini dulunya difungsikan sebagai ‘StadHuis’ atau Balai Kota dan Raad Van Justice (Dewan Pengadilan). Di tahun 1942-1945 digunakan sebagai markas Dainipon. Baru di tahun 1972 diserahkan ke Pemerintah DKI Jakarta dan Gubernur Ali Sadikin meresmikan bangunan ini sebagai museum sejarah pada tanggal 30 Maret 1974.

Jembatan Kota Intan

Peninggalan yang lebih tua dari museum sejarah adalah Jembatan Kota Intan, posisinya berada di kawasan Kali Besar. Jembatan tertua di Indonesia ini dibangun pada tahun 1628 oleh pemerintah Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).

Awal dibangun, nama jembatan ini adalah Engelse Burg atau Jembatan Inggris. Dinamakan demikian karena terletak persis di ujung kubu atau bastion dlamond dari Kastil Batavia. Bentuk Jembatan Kota Intan ini merupakan jembatan gantung, sama persis kebanyakan jembatan gantung besar lainnya di Belanda.

Dwi Panuntun (43 thn) warga asal Tangerang Selatan beserta keluarga, Minggu (14/4/2024) berkesempatan swafoto dijembatan yang menggunakan kayu ini. “Mumpung liburan, ada keponakan datang sekalian main ke Kota Tua, tidak lupa mampir ke Jembatan Kota Intan yang syarat akan nilai sejarah,” ungkap Dwi.

Toko Merah

Bangunan ini lokasinya tidak jauh dari Jembatan Kota Intan, masih berada di area Kali Besar, kawasan Kota Tua. Bangunan Toko Merah ini dibangun tahun 1730 dengan ciri khas warna merah dan menjadi tempat kediaman Gubernur Jenderal Gustaf Williem Baron Van Imholff.

Toko Merah ini memiliki luas 2.471 meter persegi ini pada abad 19 pernah menjadi kepemilikan seorang warga Tionghoa bernama Oey Liauw Kong dan difungsikan sebagai toko. Pada masa itu, area di kawasan Kali Besar merupakan hunian kaum elit dan sosialita kelas atas.

Tercatat juga, di 1920, Toko Merah sempat dibeli dan dipugar oleh NV Bouw Maarschappi dengan harga 1 juta gulden. Angka yang fantastis pada masa itu.

Stasiun Jakarta Kota

Buat wisatawan yang menggunakan Commuterline atau Kereta Rel Listrik (KRL) pasti paham betul dengan Stasiun Jakarta Kota. Faktanya, banyak penumpang yang belum tahu tentagn bangunan megah bergaya Art Deco ini.

Dulu, Stasiun Jakarta Kota bernama bernama Beos. Berasal dari bahasa Belanda, Batavia En Omstreken. Adapun artinya Batavia dan sekitarnya. Dibangun pada 1882 lebih muda dari semua bangunan yang ada di kawasan Kota Tua.

Siapa sangka, ternyata arsitek dari Stasiun Jakarta Kota yang bernama Frans Johan Louwrens Ghipsels adalah pria kelahiran Tulungagung, Jawa Timur. Dan menjadi karya terbesar dari Ghisels.

Gimana, sekarang wisatawan sudah tidak bingung hendak kemana dan mengetahui alasannya kenapa harus datang ke bangunan bersejarah yang ada di kawasan kota tua kan.(isn/infopublik)