BALI (SinarHarapan.id) – Ikatan Perawat Orthopedi dan Traumatologi Indonesia (IPOTI) atau yang sering juga disebut sebagai Himpunan Perawat Orthopedi dan Traumatologi Indonesia mendorong pemerataan kompetensi perawat orthopedi dan traumatologi hingga ke daerah. Upaya tersebut dinilai penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan terhadap pasien secara profesional dan optimal di seluruh wilayah Bali.
Komitmen tersebut mengemuka dalam pelantikan Pengurus Wilayah (PW) IPOTI Bali yang dirangkaikan dengan Pelatihan Keperawatan Ortopedi Dasar (PKOD) 2026 di Kuta, Kamis (3/9/2026). Kegiatan pelatihan berlangsung pada 3–6 September 2026.
Ketua PW IPOTI Bali, Ns. Ni Luh Putu Sri Wirayuni, S.Kep., M.Kep., mengatakan, IPOTI Bali memiliki potensi besar yang perlu disatukan dan dikembangkan agar organisasi semakin maju serta memberikan manfaat lebih luas kepada masyarakat.
Karena itu, IPOTI Bali berkomitmen memperkuat soliditas, kebersamaan, kompetensi, kolaborasi, dan jejaring antaranggota.
“Harapannya, hal ini dapat meningkatkan kontribusi dan pelayanan kesehatan kepada masyarakat,” ujarnya.
Sri Wirayuni juga mengajak seluruh anggota IPOTI Bali untuk terus menjaga kebersamaan, baik dalam menjalankan organisasi maupun memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. “Mari kita berkolaborasi dan solid, jangan jalan sendiri-sendiri agar bisa maju bersama,” ajaknya.
Saat ini, jumlah perawat orthopedi yang tercatat di Bali sekitar 50 orang. Ke depan, IPOTI Bali menargetkan pendataan dan pengembangan anggota terus meningkat seiring besarnya kebutuhan tenaga perawat dengan kompetensi orthopedi dan traumatologi.
Menurut Sri Wirayuni, jumlah kasus orthopedi yang cukup tinggi membuka peluang besar untuk pengembangan kompetensi perawat di bidang tersebut. Dari sekitar 18.000 perawat di Bali, terdapat potensi besar untuk meningkatkan jumlah tenaga keperawatan yang memiliki kompetensi khusus di bidang orthopedi.
Ketua PP IPOTI, Ismaharjuni Islamuddin, S.Kep., Ns., M.B., berharap IPOTI Bali terus berkembang dengan memperkuat kompetensi para perawat orthopedi dan traumatologi.
Ia menekankan pentingnya pemerataan keilmuan antara perawat yang bertugas di pusat kota dan daerah agar kualitas pelayanan kesehatan dapat diberikan secara merata.
“Baik perawat yang ada di pusat kota maupun di daerah, kita harapkan keilmuannya sama rata. Jangan sampai yang di daerah tertinggal,” ujar Ismaharjuni.
Menurut dia, pemerataan kompetensi menjadi faktor penting agar pelayanan terhadap pasien dapat dilakukan secara maksimal dan profesional.
Perawat orthopedi, lanjutnya, juga terus mengembangkan kompetensi melalui berbagai pelatihan sehingga mampu menjadi mitra dokter dalam penanganan pasien, termasuk mendukung tindakan operasi.
Ia menjelaskan, kasus orthopedi pada kelompok usia muda umumnya berkaitan dengan trauma akibat kecelakaan. Sementara pada kelompok usia lanjut, persoalan yang banyak ditemukan berkaitan dengan osteoporosis.
Sementara itu, Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi Indonesia (PABOI) Bali, dr. I Wayan Suryanto Dusak, Sp.O.T., Subsp.P.L(K), menilai keterampilan dan kompetensi perawat orthopedi memiliki peran penting dalam mendukung pelayanan dokter kepada pasien, termasuk dalam pelaksanaan tindakan operasi.
Ia berharap pelantikan pengurus IPOTI Bali dapat semakin memperkuat kerja sama antara dokter spesialis orthopedi dan perawat orthopedi sehingga kualitas pelayanan pasien semakin optimal.
“Dengan kerja sama yang baik, pelayanan terhadap pasien tentu bisa semakin sempurna dan lebih baik,” ujarnya.
Selain peningkatan kompetensi sumber daya manusia, perkembangan teknologi juga mulai mendukung pelayanan orthopedi. Salah satunya melalui pemanfaatan teknologi robotik, terutama untuk tindakan penggantian sendi atau artroplasti.
Namun, penggunaan teknologi tersebut masih membutuhkan investasi yang besar. Harga perangkat robotik untuk pelayanan orthopedi disebut dapat mencapai sekitar Rp18 miliar.
“Di Bali sudah ada di salah satu rumah sakit di Denpasar. Dengan menggunakan robot, tingkat presisi tindakan bisa menjadi lebih baik,” jelasnya.
Sekretaris PPNI Bali, Wayan Suardana, menambahkan pembentukan kepengurusan IPOTI Bali periode 2026–2031 menjadi langkah strategis dalam memperkuat organisasi sekaligus mendorong pengembangan kompetensi perawat.
Ia berharap IPOTI ke depan semakin memperkuat dukungan kepada para perawat serta membangun kolaborasi dengan berbagai profesi kesehatan lainnya.
Menurutnya, penguatan organisasi, kerja sama lintas profesi, dan peningkatan kompetensi menjadi bagian penting dalam mendorong kemajuan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.












