BALI (SinarHarapan.id) – Pemerintah mulai mempercepat transformasi energi bersih di Bali melalui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 300 MWp di Gilimanuk, Kabupaten Jembrana. Proyek yang dilengkapi sistem penyimpanan energi baterai atau Battery Energy Storage System (BESS) ini ditargetkan beroperasi secara komersial (COD) pada 2028.
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto didampingi Gubernur Bali Wayan Koster secara resmi melakukan launching dan groundbreaking Program PLTS 100 GWp Site Gilimanuk di Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Selasa (25/8).
Kegiatan tersebut turut dihadiri Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo, Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo, Bupati dan Wakil Bupati Jembrana, serta sejumlah pejabat terkait.
PLTS Gilimanuk menjadi salah satu proyek strategis dalam upaya mengurangi ketergantungan sistem kelistrikan Bali terhadap pembangkit berbahan bakar minyak (BBM). Pembangkit ini akan menggunakan kombinasi PLTS dan BESS serta terhubung dengan jaringan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kV Negara-Gilimanuk.
Proyek tersebut dikembangkan dengan skema Independent Power Producer (IPP), dengan skema pembelian tenaga listrik PLTS melalui energy payment dan BESS melalui capacity payment.
PLTS Gilimanuk memiliki kapasitas pembangkit sebesar 300 MWp dengan total investasi mencapai Rp9,157 triliun. Sistem BESS yang dibangun memiliki kapasitas 1.000 MWh, dengan potensi produksi energi mencapai 470 GWh.
Pembangunan PLTS tersebut membutuhkan lahan sekitar 321 hektare dan diproyeksikan mampu menghemat penggunaan BBM hingga 151 ribu kiloliter per tahun.
Program PLTS 100 GWp merupakan bagian dari agenda pemerintah untuk mewujudkan kemandirian energi sekaligus mendukung Asta Cita, khususnya dalam swasembada energi dan hilirisasi.
Secara nasional, program tersebut diawali dengan pengembangan 14 lokasi PLTS dengan total kapasitas 5,2 GWp. Lokasinya tersebar di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kepulauan Bangka Belitung, dan Kepulauan Riau.
Selain PLTS Gilimanuk berkapasitas 300 MWp, proyek lainnya meliputi PLTS Madura 605 MWp, PLTS Cirata 1.250 MWp, PLTS Jatigede 636 MWp, PLTS Jatiluhur 1.688 MWp, dan PLTS Lahan Bank Tanah 69 MWp.
Program tersebut juga mencakup PLTS Desa Sembur 0,92 MWp, PLTS Rengit 0,078 MWp, PLTS Tembesi 46 MWp, PLTS Gajah Mungkur 134,2 MWp, PLTS Saguling 92 MWp, PLTS Karangkates 133 MWp, PLTS Banyuwangi 130,2 MWp, serta PLTS Pasuruan 132 MWp.
Secara keseluruhan, program ini diproyeksikan membutuhkan investasi sekitar Rp1.140 triliun. Pemerintah memperkirakan potensi penghematan BBM mencapai Rp73,9 triliun per tahun.
Dari sisi ekonomi, program PLTS 100 GWp juga diproyeksikan membuka peluang besar bagi penyerapan tenaga kerja. Potensinya mencapai sekitar 3.465.000 tenaga kerja konstruksi dan 2.053.000 tenaga kerja manufaktur.
Presiden Prabowo Subianto mengatakan program PLTS 100 GWp merupakan langkah strategis untuk mewujudkan kemandirian energi Indonesia.
“Dengan ini secara resmi saya luncurkan program pembangkit listrik tenaga surya 100 GWp,” kata Prabowo saat peluncuran.
Menurut Prabowo, program tersebut diawali dengan 14 PLTS yang tersebar di sejumlah provinsi. Pemerintah menargetkan pembangunan PLTS 100 GWp dapat terealisasi dalam waktu tiga tahun, bahkan diharapkan bisa lebih cepat.
Program tersebut diharapkan memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mempercepat peralihan dari energi fosil menuju energi terbarukan. (*)












