17 June 2024

Foto: Ilustrasi.

StockReview.id – PT Indika Energy Tbk (INDY) terus melancarkan ekspansi di luar bisnis batubara. Di samping sejumlah aksi akuisisi, fokus INDY dalam menggelar diversifikasi tampak dari realisasi penggunaan belanja modal atawa capital expenditure (capex).

Head of Corporate Communications Indika Energy Ricky Fernando mengungkapkan pada tahun ini INDY menyiapkan capex sebesar US$ 267 juta. Sebagai gambaran saja, jumlah itu setara dengan Rp 4,33 triliun jika dikonversi memakai kurs sebesar Rp 16.230 per dolar Amerika Serikat.

Ricky bilang, sebagian besar capex INDY dialokasikan untuk menggarap pertambangan emas (proyek Awak Mas), mengembangkan segmen bisnis kendaraan listrik, nature-based solutions, dan mineral. Adapun, hingga kuartal I-2024 INDY telah merealisasikan capex sebesar US$ 37,8 juta.

Jika dikonversi dengan asumsi kurs yang sama, serapan capex INDY dalam tiga bulan pertama 2024 setara dengan Rp 613,49 miliar.

“Lebih dari 90% dialokasikan untuk bisnis non-batubara termasuk pertambangan emas, kendaraan listrik, nature-based solutions,” kata Ricky.

Ricky menegaskan, INDY berkomitmen menggarap diversifikasi di bisnis non-batubara. Strategi ini antara lain diwujudkan dalam pendirian anak-anak usaha baru di sektor non-batubara yang selaras dengan strategi perusahaan untuk mengurangi eksposur batubara.

Langkah ini juga ditujukan untuk mendukung realisasi komitmen INDY meningkatkan pendapatan hingga minimal 50% dari sektor non-batubara, serta mewujudkan netral karbon.

“Selama enam tahun terakhir kami telah melakukan ekspansi di sektor kendaraan listrik, energi baru dan terbarukan, nature-based solutions, logistik, pertambangan emas, dan lainnya,” terang Ricky.

Dari sisi kinerja, hingga kuartal I-2024 top line dan bottom line INDY kompak merosot. INDY meraih laba bersih senilai US$ 20,11 juta atau menyusut 65,86% ketimbang periode yang sama tahun lalu (Year on Year/YoY).

Sebagai perbandingan, pada kuartal I-2023 INDY membukukan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai US$ 58,92 juta.  Keuntungan INDY merosot terseret oleh penurunan pendapatan, di mana hingga Maret 2024 INDY meraup pendapatan senilai US$ 567,32 juta.

Pendapatan INDY terpangkas 37,43% (YoY) dari capaian US$ 906,83 juta per Maret 2023. Segmen bisnis utama INDY kompak merosot sepanjang tiga bulan pertama 2024. Penjualan batubara INDY turun 36,25% (YoY) dari US$ 818,35 juta menjadi US$ 521,64 juta.

Pendapatan dari segmen batubara INDY terdiri dari penjualan batubara ke pelanggan luar negeri US$ 379,68 juta dan dalam negeri senilai US$ 141,96 juta.

Ricky mengungkapkan penurunan pendapatan INDY pada kuartal I-2024 terutama didorong oleh penurunan harga jual batubara dari anak usaha INDY, Kideco Jaya Agung.

Harga rata-rata batubara Kideco merosot 28,5% menjadi US$ 62,5 per ton. Adapun, sepanjang tahun ini Kideco menargetkan produksi batubara sebanyak 29,4 juta ton.