BALI (SinarHarapan.id) – Pameran tunggal I Made Mahendra Mangku menghadirkan 34 lukisan di Komaneka Art Gallery Keramas Gianyar. Dalam pameran yang keempat kalinya ini, Mahendra Mangku menyoroti tentang lingkungan, baik kerusakan maupun pelestarian lingkungan.
Dalam pameran kali ini ia mengambil tema “Yang Tersisa Dalam Air, Waktu, Keheningan dan Jejak Kemunculan”. “Gagasan dari pameran ini berasal dari kenangan-kenangan yang saya alami baik secara personal maupun non personal di dalam keheningan dan waktu itu sendiri,” ungkap Mahendra Mangku saat pembukaan pameran, Sabtu (20/6).

Karya-karya yang ditampilkan kali ini berasal dari kenangan yang berkaitan dengan alam, baik tentang kerusakan alam maupun pelestarian alam. “Semua ada di situ dan itu menjadi gagasan dasar dari karya-karya ini,” tambah Mahendra Mangku.
Ia menyebutkan salah satu karya yang paling berkesan dalam pameran ini, yakni lukisan yang diberi judul bersandar. Karya ini, menurut Mahendra Mangku untuk mengkritisi bagaimana lahan itu hilang atau beralih fungsi, dan ia mengaku memiliki ketakutan sebagau orang lokal akan terusir dari tanahnya sendiri.
Pameran yang disiapkan selama enam bukan ini akan berlangsung hingga 20 Juli mendatang. Ia juga mempersilahkan jika ada kolektor yang berminat atas karya-karyanya baik di atas kanvas maupun kertas yang sudah dibingkai.
“Pameran ini berlangsung selama satu bulan dan dibuka untuk umum. Pameran ini juga gratis, jadi siapapun bisa menyaksikan pameran ini,” tambahnya.
Sementata itu pemilik Komaneka Art Gallery, Nyoman Wahyu Suteja mengaku sebagai bagian dari Komaneka Hotel, tempat ini juga mengambil konsep seni dan budaya. “Jadi hospitalitynya nyambung dengan kekayaan budaya. Khusus budaya yang saya tampilkan di sini adalah contemporary art karena konsepnya adalah saya juga mencari pelukis-pelukis yang masih hidup yang saya tumbuh bersama mereka. Sepertu contohnya Mahendra Mangku ini, saya kenal sejak mahasiswa, kemudian kami berbincang tentang ide sampai akhirnya empat kalinia melakukan pameran tunggal di Komanek Art Gallery baik di Ubud maupun di sini,” papar Wahyu Suteja yang juga akrab dipanggil Komaneka.
Tak hanya menampilkan karya pelukis-pelukis lama, ia juga mengaku tetap mencari bakat pelukis yang baru, kontemporer yang bisa memberikan ide tidak hanya tentang keindahan saja, tapi juga segala macam ide termasuk tentang sosial, politik dan lingkungan. Selain di sini, Komenak juga mengaku sering melakukan pameran keliling seperti di Hongkong, Singapura dan daerah lainnya di Indonesia.
“Selain sama pelukis, saya juga menjaga hubungan baik dengan para kolektor. Termasuk kolektor Mangku, saya juga sering mengupdate karya-karyanya dan itu yang selaku saya diskusikan dengan kolektornya,” tandas Komaneka.








