BALI (SinarHarapan.id) – Alaya Resort Ubud menggelar Piodalan Agung di Padmasana resort setempat, Rabu (7/10). Upacara ini menjadi momentum bagi manajemen dan karyawan untuk mengungkapkan rasa syukur sekaligus memperkuat komitmen melestarikan budaya Bali.
Chief Operating Officer Alaya Hotels & Resorts sekaligus GM Alaya Resort Ubud, Dewi Mas, mengatakan Piodalan Agung kali ini digelar karena bertepatan dengan Sasih Keempat dalam kalender Bali.
“Kami biasa menggelar piodalan setiap enam bulan kalender Bali. Kali ini kami menggelar Piodalan Agung karena jatuh pada Sasih Keempat,” ujarnya didampingi Associate Director Communication & Strategy Alaya Hotels & Resorts Mira Afdina di Ubud, Rabu (7/10).
Menurut Dewi, piodalan menjadi ruang bagi seluruh tim untuk sejenak menghentikan rutinitas, mengucap syukur, sekaligus menjaga warisan budaya yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bali.
Rangkaian upacara dimulai Senin (5/10) dengan ritual Nunas Tirta di sejumlah pura di kawasan Padang Tegal dan Ubud, di antaranya Pura Desa dan Puseh, Pura Melanting, serta Pura Gunung Lebah.
Seluruh departemen kemudian terlibat dalam persiapan upacara, mulai dari Mereresik atau membersihkan lingkungan pelinggih hingga lomba Mayasan Pelinggih dan merangkai Gebogan. Kegiatan ini sekaligus menjadi penerapan filosofi Tri Hita Karana, khususnya aspek Parahyangan.
Sejak 2017, setiap departemen di Alaya Resort Ubud mendapat peran sebagai Pengempon yang bertanggung jawab menjaga pelinggih di lingkungan resort. Dari sembilan pelinggih, masing-masing memiliki kelompok Pengempon yang terdiri atas perwakilan karyawan.
Puncak Piodalan diawali dengan ritual Mecaru, dilanjutkan persembahyangan bersama di Padmasana. Rangkaian upacara juga dimeriahkan Tari Rejang Renteng yang dipersembahkan karyawan.
Dewi mengatakan budaya tidak hanya menjadi bagian dari pengalaman yang ditawarkan kepada tamu, tetapi juga diterapkan dalam keseharian. Melalui Piodalan, pihaknya berupaya menjaga hubungan harmonis dengan Tuhan, lingkungan, dan masyarakat sekitar.
Para tamu yang menginap juga diberi kesempatan menyaksikan rangkaian kegiatan dengan tetap menghormati tata cara dan nilai budaya setempat.
Sementara itu, wisatawan asal Belanda Jan dan Anna Veuger mengaku terkesan dengan pengalaman pertama mereka berkunjung ke Bali. Selain menyaksikan Piodalan, keduanya tertarik dengan persawahan Ubud dan filosofi Tri Hita Karana.
“Ini pertama kalinya saya ke Bali. Kami tahu akan ada upacara ini, tetapi sangat spesial bagi saya dan istri untuk melihat, merasakan, serta memahami apa yang sedang berlangsung,” ujar Jan.
Anna mengaku senang dapat menyaksikan langsung tradisi Bali setelah sebelumnya mendapat penjelasan dari pihak hotel mengenai rangkaian upacara.
Pengalaman tersebut juga membuat keduanya tertarik dengan sistem persawahan di Ubud. Jan mengaku baru pertama kali melihat langsung proses dan kehidupan yang berkaitan dengan persawahan Bali.
“Saya belum pernah melihat persawahan seperti ini sebelumnya. Sangat menarik bagaimana menanam padi dan ketika siap dipanen bagaimana memanfaatkannya,” tuturnya.
Ia juga mengapresiasi penjelasan pemandu mengenai budaya, persawahan, dan kehidupan masyarakat Bali. Konsep Tri Hita Karana yang menekankan keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam dinilainya memiliki nilai universal. “Ketiganya saling terhubung,” katanya.












