BaliGaya HidupHeadlineNetwork

Dari Sanur Menembus 79 Negara, IB Ngurah Wijaya Abadikan Perjalanan dalam Dua Buku

×

Dari Sanur Menembus 79 Negara, IB Ngurah Wijaya Abadikan Perjalanan dalam Dua Buku

Sebarkan artikel ini

Kedua buku itu akan diluncurkan di Taman Jepun Cafe & Resto, Jumat (11/9) sore. IB Ngurah Wijaya memaparkan isi dan proses penulisan kedua buku tersebut dalam konferensi pers di Segara Village Hotel, Sanur, Kamis (10/9).

BALI (SinarHarapan.id) – Perjalanan hidup dan kiprah Ida Bagus Ngurah Wijaya di dunia pariwisata Bali hingga petualangannya menembus 79 negara dengan sepeda motor dituangkan dalam dua buku. Di usia 75 tahun, tokoh pariwisata Bali tersebut meluncurkan Menembus Horizon dan World Solo Ride: Dari Bali, Membawa Merah Putih Menjelajah Dunia.

Kedua buku itu akan diluncurkan di Taman Jepun Cafe & Resto, Jumat (11/9) sore. IB Ngurah Wijaya memaparkan isi dan proses penulisan kedua buku tersebut dalam konferensi pers di Segara Village Hotel, Sanur, Kamis (10/9).

Menembus Horizon mengisahkan perjalanan personal, keluarga, pendidikan, hospitality, hingga kiprahnya dalam perkembangan pariwisata Bali. Di buku ini juga berisi testimoni dari puluhan tokoh pariwisata baik daei Bali, nasional maupun tokoh pariwisata dari luar negeri.

Sementara World Solo Ride merekam petualangannya mengendarai sepeda motor seorang diri melintasi Asia, Eropa, Amerika, Afrika dan Australia.

Hingga usia 75 tahun, IB Ngurah Wijaya mengaku telah menjelajahi sekitar 79 negara dengan total perjalanan mencapai 190.000 kilometer menggunakan tiga sepeda motor. Petualangan tersebut berawal dari perjalanan mengelilingi Indonesia ketika berusia 69 tahun.

Menurutnya, perjalanan bukan semata-mata soal jumlah negara atau jarak yang ditempuh, tetapi keberanian, persiapan, kerja keras dan kemauan untuk terus belajar. Faktor finansial, katanya, tetap diperlukan, namun bukan satu-satunya penentu. “Dana pasti perlu, tetapi bukan faktor itu saja. Yang penting keberanian,” ujarnya.

Ia mengatakan, saat masih aktif bekerja, dirinya memilih fokus menyelesaikan tanggung jawab pekerjaan sebelum melakukan perjalanan lebih jauh. Karena itu, ia mengingatkan agar aktivitas touring disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.

“Kalau mau touring atau naik motor ke mana-mana, ya sesuai dengan budget kita,” katanya.

Sementara itu, Menembus Horizon juga mengungkap keterkaitan keluarga IB Ngurah Wijaya dengan sejarah awal pariwisata Bali. Orang tuanya mulai membangun hotel di Sanur pada 1956. Dari lingkungan keluarga tersebut, ia kemudian mengikuti perkembangan pariwisata Bali, termasuk upaya promosi Indonesia ke berbagai negara.

Menurutnya, Bali memiliki posisi penting dalam sejarah perkembangan pariwisata Indonesia. Perjalanan tersebut kemudian berkembang hingga lahirnya Bali Beach yang menjadi salah satu tonggak pariwisata modern di Pulau Dewata.

Kiprah IB Ngurah Wijaya tidak berhenti pada bisnis hospitality. Ia aktif dalam berbagai kegiatan promosi dan pengembangan pariwisata, termasuk melalui Bali Tourism Board (BTB) yang berdiri pada 2000. Sebagai chairman BTB, ia mendorong kolaborasi pelaku industri, pemerintah, masyarakat dan media dalam memperkuat posisi Bali sebagai destinasi internasional.

Peran tersebut semakin menonjol ketika Bali menghadapi dampak Bom Bali I dan Bom Bali II. Komunikasi dengan media nasional dan internasional menjadi bagian dari upaya membangun kembali kepercayaan wisatawan terhadap Bali.

Puluhan tahun berkecimpung di sektor pariwisata membuat IB Ngurah Wijaya menilai kekuatan utama Bali bukan hanya pada alam, melainkan masyarakat dan budaya.

“Yang membuat beda itu adalah masyarakat Bali. Budayanya membuat karakter orang Bali,” katanya.

Karena itu, ia mengingatkan agar perkembangan pariwisata tidak menghilangkan karakter Bali. Menurutnya, pertumbuhan pariwisata yang terlalu eksesif telah memunculkan persoalan ruang hijau, ketersediaan air, kemacetan dan kenyamanan wisatawan.

“Kalau hilang kebalian kita ini, ya kayaknya kita sama dengan yang lain,” ujarnya.

Ia menilai keberhasilan pariwisata tidak cukup diukur dari jumlah wisatawan maupun pertumbuhan hotel dan restoran. Kualitas destinasi harus mencakup tata kelola, lingkungan, sampah, polusi, ruang hijau hingga kelancaran lalu lintas.

“Bukan hotelnya saja, bukan restorannya, bukan pemandangannya saja, tapi manajemennya,” tegasnya.

Kemacetan, lanjut dia, juga mulai mengurangi kualitas pengalaman wisatawan. Waktu perjalanan yang semakin panjang membuat wisatawan lebih banyak menghabiskan waktu di kendaraan dibandingkan menikmati objek wisata.

Karena itu, pemerintah dinilai memiliki peran penting melalui regulasi dan pengawasan agar pertumbuhan pariwisata tetap seimbang.

“Pemerintah punya peran penting. Dia yang mengatur, membuat aturan dan menjaga supaya itu tidak hilang,” katanya.

Di sisi lain, World Solo Ride menjadi catatan perjalanan personal IB Ngurah Wijaya. Selain menempuh 190.000 kilometer di 79 negara, perjalanan tersebut menghasilkan sekitar 20.000 foto. Dokumentasi foto, video dan materi YouTube sebagian besar dibuat dan dikelola sendiri.

“Foto ini semua saya buat sendiri. Video saya buat sendiri. YouTube juga saya buat sendiri. Jadi semua saya buat sendiri,” ungkapnya.

Proses penyusunan Menembus Horizon berlangsung sekitar dua tahun dengan menghimpun cerita dari berbagai fase kehidupannya. Sementara World Solo Ride disusun berdasarkan dokumentasi perjalanan di berbagai benua.

Kedua buku tersebut melibatkan lima penulis dan menjadi catatan dua sisi perjalanan IB Ngurah Wijaya. Menembus Horizon merekam keluarga, kehidupan, hospitality dan kiprahnya dalam pariwisata Bali. Sedangkan World Solo Ride mengangkat keberanian, ketahanan dan semangat menjelajah di usia lanjut.

“Setiap hal itu mempunyai momen. Waktunya pasti. Waktunya akan berubah sesuai dengan perkembangan zaman,” ujarnya.

Penulis: Ngr Adhi