21 June 2024

Ketua IHGMA DPD Bali Dr. Yoga Iswara.

BALI (SinarHarapan.id) – Wacana penggunaan hasil pungutan wisatawan asing (PWA) untuk penanganan sampah menjadi sorotan dalam Rakerda IV Indonesian Hotel General Manager Assosiation (IHGMA) DPD Bali di Kuta, Rabu (24/4). Ketua IHGMA DPD Bali Dr. Yoga Iswara, BBA., BBM., MM., CHA mengungkapkan, masalah penanganan sampah menjadi salah satu tantangan bagi pariwisata Bali. Ia menilai pungutan wisatawan yang akan digunakan untuk menangani sampah hendaknya dapat dijelaskan bentuk penanganannya.

“Bagaimana penanganannya, oleh siapa dan berapa anggarannya, ini harus jelas,” kata Yoga Iswara.

Dalam kegiatan yang dirangkaikan dengan perayaan hari jadi IHGMA ke-8 yang jatuh pada  20 April 2024 dan juga Hari Kartini pada 21 April 2024 ini menandai komitmen IHGMA DPD Bali dalam mendorong pariwisata yang tidak hanya berhenti pada konsep berkelanjutan, yaitu meminimalkan dampak negatif, sekaligus juga berupaya menciptakan dampak positif dalam setiap kegiatan pariwisata di Bali untuk mewujudkan manfaat yang berkelanjutan untuk semua stakeholder.

“Inovasi ini kita kenal dengan regenerative tourism,” ungkap Ketua Panitia Rakerda, Oka B. Cahyani, SE.

Kepala Dinas Pariwisata Bali Bapak Tjok Bagus Pemayun dalam sambutannya sekaligus membuka Rakerda IV IHGMA Bali 2024 menyampaikan dalam era globalisasi yang terus berkembang, industri pariwisata telah menjadi salah satu sektor ekonomi utama yang mengalami pertumbuhan pesat di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia.

Namun, dengan pertumbuhan tersebut juga muncul tantangan besar terkait keberlanjutan lingkungan dan sosial. Kadisparda Bali berharap agar IHGMA sebagai asosiasi profesi pimpinan tertinggi akomodasi pariwisata dapat selalu mengawal Bali baik dari segi konsep dan implementasinya untuk mewujudkan Pariwisata Bali yang berbudaya, berkualitas dan berkelanjutan.

Konsep pariwisata regeneratif menurut Yoga Iswara, melampaui konsep pariwisata berkelanjutan yang biasa dikenal saat ini.

“Sementara pariwisata berkelanjutan bertujuan untuk menjaga sumber daya alam dan budaya agar tetap terjaga untuk generasi mendatang, pariwisata regeneratif berusaha untuk mengembalikan, memperbarui, dan meningkatkan sumber daya tersebut,” papar Yoga Iswara.

Dengan kata lain, tujuannya bukan hanya untuk mempertahankan status quo, tetapi juga untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan sosial di destinasi pariwisata. Yoga menambahkan, dalam era perubahan iklim dan kerusakan lingkungan yang terus meningkat, regenerative tourism menjadi solusi yang penting untuk mengurangi dampak negatif pariwisata sekaligus memperbaiki kerusakan yang sudah ada, konsep ini sangat relevan untuk di Bali.

Mengadopsi pariwisata regeneratif membutuhkan kolaborasi yang erat antara semua pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, industri pariwisata, stakeholders pariwisata, masyarakat lokal, dan wisatawan.

Upaya ini mencakup berbagai inisiatif, mulai dari mempromosikan produk lokal untuk mendukung ekonomi lokal, hingga memperkuat infrastruktur lingkungan dalam rangka meningkatkan kualitas destinasi pariwisata itu sendiri.

Ketua Harian IHGMA DPD Bali, Komang Artana menyampaikan, salah satu fokus utama kegiatan regeneratif ini adalah dengan memperkuat produk lokal. IHGMA Bali percaya kekayaan budaya dan alam Indonesia adalah aset yang tak ternilai harganya.

Dengan mempromosikan produk lokal, kami tidak hanya mendukung ekonomi lokal, tetapi juga menjaga keberlanjutan lingkungan serta memperkuat identitas destinasi.

Tak hanya itu, IHGMA Bali juga bertekad tetap berkomitmen memerangi masalah sampah plastik. Sampah plastik telah menjadi ancaman serius bagi lingkungan, kesehatan manusia, dan keberlanjutan pariwisata.

Melalui inisiatif-inisiatif seperti kampanye pengurangan plastik sekali pakai dan pengembangan infrastruktur daur ulang, kami berupaya untuk mengurangi dampak negatif sampah plastik pada destinasi wisata, termasuk di akomodasi pariwisata, anggota IHGMA sudah tidak menggunakan mineral water berkemasan plastik sekali pakai, sedotan plastik, dan tas belanja plastik sekali pakai di lingkungan hotel dan akomodasi pariwisata. *rah