BaliHeadlineNetwork

Praktisi Pariwisata Soroti Antara Sampah dan Wisatawan di Bali

×

Praktisi Pariwisata Soroti Antara Sampah dan Wisatawan di Bali

Sebarkan artikel ini

BALI (SinarHarapan.id) – Persoalan sampah di sejumlah pantai yang ada di Bali sudah menjadi masalah klasik. Bahkan kondisi ini juga mendapat sorotan dari Presiden Prabowo Subianto yang mengkritisi soal kebersihan pantai di Bali, sekaligus menginstruksikan seluruh instansi di Bali melakukan aksi bersih-bersih

Instruksi Presiden untuk melakukan aksi bersih-bersih pantai di Bali mencerminkan komitmen negara yang tegas terhadap isu lingkungan. Pada hari pertama pelaksanaan, seluruh pemangku kepentingan bergerak serempak—pemerintah daerah, TNI, Polri, pelaku industri pariwisata, asosiasi, hingga masyarakat.

Pantai-pantai di kawasan wisata Bali Selatan tampak bersih. Media mencatatnya sebagai keberhasilan cepat, dan publik menyambutnya dengan optimisme. Bendera berkibar, ribuan orang bergerak beriringan dengan berbagai atribut institusi. Kamera merekam. Instruksi negara telah turun, dan semua patuh. Sampah diangkut, kayu, plastik, botol, dan sisa-sisa peradaban manusia disingkirkan dari pasir. Wisatawan bertepuk tangan, lalu kembali ke kursi pantai. Foto-foto menyebar cepat dengan satu narasi besar: “Pantai Bali Bersih.”

Namun laut tidak membaca berita.

Angin tidak ikut apel.

Dan plastik tidak mengenal instruksi negara.

Beberapa hari kemudian, ombak mengembalikan apa yang kemarin diangkut. Pantai kembali kotor, kali ini tanpa kamera, tanpa komando, tanpa sorak. Seorang wisatawan bertanya lirih, “Why is the beach always cleaned, but never clean?”. Pertanyaan sederhana itu sesungguhnya merupakan kritik mendalam. Ia menyingkap kenyataan bahwa selama ini yang dilakukan sering kali baru sebatas menghapus gejala, bukan menyembuhkan akar persoalan.

Di sinilah instruksi Presiden perlu dibaca lebih jauh bukan sekadar sebagai perintah aksi simbolik, melainkan sebagai pesan strategis bahwa tata kelola pengelolaan sampah di Bali harus ditempatkan sebagai agenda super prioritas. “Interpretasi dari instruksi Bapak Presiden menegaskan bahwa pengelolaan sampah di Bali tidak cukup diselesaikan dengan kegiatan insidental, melainkan harus dibangun melalui sistem yang kuat, berkesinambungan, dan memiliki arah yang jelas, guna menjaga lingkungan Bali tetap BALI: Bersih, Aman, Lestari, dan Indah,” ungkap Praktisi Industri Pariwisata, Darmayasa Barak di Denpasar, Sabtu (7/2).

Pesan strategis inilah menurutnya yang seharusnya bekerja—bukan hanya membersihkan pantai hari ini, tetapi memastikan pantai tidak kembali kotor esok hari. Berdasarkan kondisi tersebut, model I-BESTIE hadir sebagai kontribusi pemikiran, bukan sebagai program besar yang penuh jargon. I-BESTIE merupakan cara berpikir baru dalam memandang hubungan antara manusia, lingkungan, dan ruang hidup, melalui integrasi Budaya, Edukasi Lingkungan, Sirkular Ekonomi, Teknologi, Institusionalisasi, dan Eliminasi limbah dari hulu dalam merespons persoalan nyata pengelolaan sampah berkelanjutan.

Budaya dihidupkan kembali. Pantai tidak lagi diperlakukan sebagai halaman belakang ekonomi, melainkan sebagai ruang hidup yang dijaga dengan rasa tanggung jawab bahkan rasa malu bila mengotorinya.

Edukasi lingkungan hadir secara halus: di meja warung pantai, dalam menu hotel, melalui cerita para staf. Wisatawan pun belajar bahwa menikmati alam berarti ikut bertanggung jawab menjaganya.

Sirkular ekonomi memastikan bahwa sampah tidak memiliki alasan untuk tinggal lama. Setiap botol plastik dan kaleng memiliki nilai, setiap batang kayu dapat diolah menjadi produk kerajinan, dan setiap sisa membuka peluang untuk diolah kembali menjadi produk baru yang bernilai guna sekaligus bernilai ekonomi.

Teknologi bekerja senyap memberi peringatan sebelum sampah menumpuk, bukan setelah pantai menjadi tajuk berita.

Institusionalisasi memastikan pantai memiliki pengampu yang jelas—bukan hanya saat ada perintah, tetapi setiap hari, tanpa harus disuruh.

Dan pada akhirnya, Eliminasi dilakukan dari hulu, karena pantai tidak pernah salah; ia hanya menerima apa yang kita kirimkan.

Karena itulah, momentum ini seharusnya menjadi titik tolak bersama. Bukan untuk menunggu instruksi berikutnya, melainkan untuk membangun kesadaran kolektif bahwa menjaga pantai bukan tugas satu pihak, satu hari, atau satu seremoni. Ia membutuhkan kerja bersama seluruh pemangku kepentingan pentahelix pariwisata pemerintah, akademisi, industri, komunitas, media, termasuk wisatawan yang berjalan seirama dalam satu sistem yang saling menguatkan. Dengan bahu membahu, pantai Bali dapat dijaga oleh kesadaran, ditopang oleh sistem, dan diwariskan sebagai ruang hidup yang Bersih, Aman, Lestari, dan Indah. Karena pada akhirnya, pantai yang benar-benar indah bukanlah pantai yang sering dibersihkan, melainkan pantai yang tidak pernah dikotori—karena kita menjaganya bersama.