BALI (SinarHarapan.id) – Sekitar 80 hektar lahan sawah aktif di Kecamatan Petang hingga wilayah Gerana, Abiansemal, Badung mulai terancam kemarau ekstrem. Menurunnya debit air sungai dan rusaknya infrastruktur irigasi menyebabkan pasokan air ke persawahan terganggu.
Dinas Pertanian dan Pangan (Diperpa) Kabupaten Badung melakukan sejumlah langkah antisipasi untuk menekan dampak kekeringan. Upaya tersebut meliputi perbaikan jaringan irigasi, pemetaan lahan terdampak, pemantauan kondisi tanaman, serta penyiapan anggaran perbaikan melalui APBD Perubahan 2026.
Kepala Diperpa Badung, Anak Agung Ngurah Raka Sukadana, mengatakan penanganan darurat telah dilakukan, terutama untuk memperbaiki terowongan irigasi yang rusak di wilayah hulu. Kerusakan tersebut menjadi salah satu penyebab terganggunya pasokan air ke persawahan di bagian bawah.
“Perbaikan terowongan rusak sedang berjalan secara manual karena medannya terjal dan sulit dimasuki alat berat. Kami juga sudah menganggarkan pendataan irigasi dan kondisi petani di anggaran perubahan agar perbaikan fisik bisa dipercepat,” ujarnya, Minggu (11/10).
Selain kerusakan terowongan, kondisi saluran irigasi tradisional yang belum memadai turut menyebabkan distribusi air tidak optimal. Di Subak Buangga, misalnya, saluran irigasi sepanjang tiga kilometer masih berupa tanah sehingga sebagian air meresap sebelum mencapai lahan persawahan.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemkab Badung memprioritaskan pembetonan saluran irigasi yang masih berupa tanah. Pendataan jaringan irigasi dan kondisi petani juga diperkuat agar perbaikan dapat dilakukan secara tepat sasaran sekaligus mengurangi kehilangan air selama pengaliran.
Sembari menunggu perbaikan infrastruktur, Diperpa bersama instansi terkait menyalurkan bantuan air ke kawasan pertanian yang kekurangan pasokan. Sebelumnya, enam subak di Kecamatan Petang telah mendapat penanganan darurat menggunakan tiga truk tangki dan pompa.
Koordinasi juga dilakukan dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), pengurus subak, serta pengelola irigasi untuk menentukan langkah penanganan sesuai kondisi di lapangan.
“Kami juga terus melakukan monitoring kondisi tanaman dan ketersediaan air, serta berkoordinasi dengan BPBD, PUPR, subak, pengelola irigasi, dan instansi terkait untuk menentukan langkah penanganan sesuai kondisi di lapangan,” katanya.
Di sisi lain, petani diimbau mengatur penggiliran air secara ketat, menghemat penggunaan air, dan menyesuaikan pola tanam dengan ketersediaan air. Penanaman palawija juga disarankan sebagai alternatif sementara karena dinilai lebih sesuai dengan kondisi musim kering.
“Petani kita sebenarnya sudah paham cuaca, tapi kemarin banyak yang nekat menanam padi karena mengharapkan hujan. Padahal kalau diatur dengan pola tanam palawija dan irigasi bagus, cuaca ekstrem tidak akan terlalu berdampak,” tegasnya.
Raka Sukadana berharap kombinasi perbaikan infrastruktur irigasi, bantuan air darurat, dan penyesuaian pola tanam dapat menekan dampak kemarau ekstrem. Dengan demikian, produktivitas pertanian dan keberlangsungan usaha petani di Badung tetap terjaga.












