BALI (SinarHarapan.id) – Peningkatan produktivitas dan kelancaran distribusi menjadi isu strategis pengendalian inflasi pangan di wilayah Bali dan Nusa Tenggara (Balinusra). Merespons hal tersebut, Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) dalam wadah Tim Pengendali Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP–TPID) menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas harga melalui penguatan produksi pangan dan peningkatan efisiensi logistik pangan. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) Wilayah Balinusra Tahun 2026 di Subak Jatiluwih, Kabupaten Tabanan, Bali pada (27/6).
GPIPS Wilayah Balinusra mengangkat tema “Sinergi Peningkatan Produktivitas dan Distribusi untuk Stabilitas Pangan di Tengah Tantangan Iklim dan Dinamika Pariwisata”.
Salah satu agenda pada penyelenggaraan GPIPS meenurur Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Achris Sarwani yakni Gerakan Pangan Murah (GPM) melalui penyelenggaraan Operasi Pasar (OP) serentak di wilayah Balinusra yakni Pasar Badung (Bali), Pasar Pagesangan (NTB), dan Pasar Oebobo (NTT).
“Ketiga pasar tersebut merupakan salah satu pasar utama yang menjadi tujuan utama masyarakat dalam memenuhi kebutuhan bahan pangan harian. Dalam OP hari ini menyediakan cabai merah, bawang, minyak goreng, beras, telur, dan komoditas pangan strategis lainnya. Pelaksanaan OP berfokus pada prinsip “3T” yakni tepat waktu, tepat lokasi, dan tepat sasaran,” ungkap Achris Sarwani dalam keterangannya di Denpasar, Rabu (29/7).
Tepat waktu di sini berarti menjaga inflasi saat momen tertentu seperti HBKN, libur sekolah, dan peak season pariwisata. Tepat lokasi artinya OP dilaksanakan di daerah dengan komoditas harga tinggi. Tepat sasaran yakni OP menyediakan berbagai komoditas strategis penyumbang inflasi dan menjangkau masyarakat berpenghasilan rendah.
“Melalui 3T, kegiatan ini semakin efektif mengendalikan harga dan pangan yang terjangkau bagi masyarakat. Sejumlah pembeli menuturkan kegiatan operasi pasar sangat bermanfaat karena menyediakan berbagai bahan pangan dengan harga yang lebih murah,” tambahnya.
Asisten Gubernur – Kepala Departemen Regional Bank Indonesia, Rudy B. Hutabarat menuturkan, pelaksanaan GPM merupakan bentuk pengendalian harga pangan secara langsung guna mendukung keterjangkauan harga bagi masyarakat. “Pelaksanaan GPM tentunya berhasil terwujud melalui sinergi dan kolaborasi antara TPID, Pemda, Bulog, dan mitra,” ujar Hutabarat.
Penyelenggaraan GPIPS turut dirangkaikan dengan Rapat Koordinasi TPIP–TPID se-Balinusra yang dipimpin oleh Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kemenko Perekonomian, Ferry Irawan. Rapat Koordinasi TPIP–TPID menghasilkan kesepakatan penguatan GPM dalam rangka mewujudkan keterjangkauan harga.
Bentuk penguatan diantaranya melalui penyediaan kalender OP, serta peningkatan kualitas data harga dan neraca pangan. Ke depan, Bank Indonesia bersama Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah akan terus memperkuat sinergi dan kolaborasi dalam mendukung ketahanan pangan dan pengendalian inflasi melalui penguatan produktivitas dan peningkatan efisiensi logistik pangan guna menjaga stabilitas harga, memberdayakan petani, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.












